Metha Studio Jogja

Metha Studio lahir karena besarnya kecintaan akan komik lokal dan keinginan untuk menghidupkannya kembali.

Berawal dari kegemaran pada komik Indonesia lawas, maka Metha pun mengawali ‘perjuangan’ dengan mengangkat karakter superhero yang pernah sangat terkenal di masa kejayaan komik nasional. Metha ingin sekali membangun jembatan yang menghubungkan celah besar antar generasi pencinta komik nasional dengan mencoba memperkenalkan karakter lama dengan interpretasi yang lebih segar dan pengembangan cerita sekaligus karakter yang baru.

Debut awal Metha pada 2006 adalah komik Godam Reborn, bekerja sama dengan Fajar Sungging Pramodito, salah satu putra alm. Wid NS, sebagai penulis sekaligus artisnya. Komik Godam Reborn ini berlanjut hingga 3 buku (trilogi).

Komik bergenre superhero berikutnya yang digarap oleh Metha adalah Aquanus, juga hasil kreasi dari alm. Wid NS. Di sini Metha bekerja sama dengan studio komik asal Surabaya, Neo Paradigm, mencoba memperkenalkan lagi sekaligus mengulik ulang karakter Aquanus. Aquanus yang dulunya dianggap sebagai karakter superhero marginal dan hanya pendamping bagi Godam dan Gundala, coba lebih diangkat karakternya dan dibeberkan asal-usul beserta dunianya yang dominan berkutat di samudera. Maka ada komik Godam Reborn, ada pula komik Aquanus yang ber-subjudul Benua Ketujuh.

Tidak hanya bermain di wilayah superhero saja, Metha dalam usahanya mengangkat komikus muda yang ingin karyanya diterbitkan, membuat konsep komik antologi. Jadi di dalam satu komik berkumpullah beberapa komikus, dari yang sudah melanglang buana di industri komik nasional puluhan tahun sampai yang sebelumnya baru punya portofolio (belum karya utuh), membuat ceritanya masing-masing dalam panduan satu tema. Konsep komik antologi yang disodorkan Metha memberikan ruang bagi komikus yang baru mulai untuk mempromosikan karyanya dan memberikan kesempatan pada komikus senior untuk kembali mengekspresikan kemampuannya. Kedua-duanya bisa saling mengangkat. Pembaca juga diuntungkan, karena dari satu komik mereka mendapatkan banyak cerita dan banyak rasa.

Yang menarik juga dicermati adalah kiprah komikus senior yang digandeng Metha seperti Hasmi dan Gerdi WK. Mereka sepertinya menemukan lagi ruang bermain yang dulu mereka kuasai. Tidak melulu harus mengikuti tren komik yang berlaku sekarang, mereka diberi kesempatan untuk melakukan apa yang mereka mau, apa yang mereka bisa. Terlihat mereka belum kehilangan sentuhannya. Hasmi masih lincah menggabungkan dunia modern dan mistis masa lampau di antologi Waktu dan Keris. Sementara Gerdi WK masih kuat goresan tintanya dan lihai menulis soal ironi dan tragedi di Roro Mendut dan Cinta Itu Buta. Penggambaran fisik tokoh wanitanya juga masih seyahud saat menggambar Gina.

Bicara soal fisik, Metha Studio sangat memperhatikan fisik komik-komik terbitannya. Mulai dari kualitas kertas sampai ukuran bukunya. Ukuran komik Metha sengaja tidak mau dibuat sekecil komik-komik terjemahan Jepang yang lagi ngetren sekarang. Sambil setengah bercanda, Pak Akhmad bilang itu dilakukan supaya kalau dipajang di rak buku masih kelihatan dan tidak mudah hilang. Dan untuk jumlah halamannya sendiri dibuat setidaknya 100 halaman (kecuali untuk satu dua judul).

Untuk penjualannya sendiri, Metha menggunakan sistem online. Metha sebelumnya pernah memakai agen, tapi terpotong cukup banyak. Apalagi menitipkan di toko buku besar, potongannya akan lebih besar lagi. Bila menjual lewat toko buku besar maka Metha harus menaikkan harga 3 kali lipat dari harga jual asli. Dan mungkin buku yang terjual belum tentu sebanyak yang diharapkan. Dari situ Metha memutuskan untuk menjual langsung lewat online.

Sudah lebih dari 20 judul komik yang diterbitkan Metha Studio (selengkapnya lihat di sini) dan tantangan yang dihadapi hanya satu: pasar yang melirik pada komik terbitan lokal masih sangat kurang. Meski dijual dengan harga yang terjangkau, dan sejak awal tidak pernah menargetkan laba, tetap saja belum menarik minat orang untuk beli. Meskipun begitu, hingga kini Metha Studio tetap melakukan produksi, tetapi dalam jumlah eksemplar yang relatif "aman" untuk menghindari stok macet.

“Metha Studio baru memberikan kepuasan batin -karena sudah turut berkontribusi untuk kebudayaan lokal- belum memberikan keuntungan finansial”

Ada beberapa poin atau prinsip yang dipegang oleh Metha Studio. Yang pertama, komik Metha tidak akan bicara atau tidak akan berpihak pada agama atau politik tertentu. Kemudian nilai-nilai kebersamaan dan cinta kasih yang universal akan selalu dikedepankan. Komik Metha juga tidak akan menampilkan adegan kekerasan yang berlebihan dan adegan seksualitas yang merusak. Bahkan gambar orang merokok pun hampir tidak ada. Metha ingin menjadi komik yang edukatif, tapi tidak kehilangan sisi fun-nya.

Ciptakan Karakter Superhero Sendiri

Gasa (Garuda Satu).
Benturan demi benturan terkait dengan penggunaan karakter superhero ciptaan/ hak cipta pihak lain dalam beberapa komik Metha memaksa Metha untuk menciptakan sendiri karakter superhero. Bekerjasama dengan Dwi 'Jink' Aspitono, lahirlah tokoh Gasa (Garuda Satu) dan Garuda Merah alias Red Baron.

Komik Gasa sudah terbit pada 2015 lalu, hasil reka ulang dari komik Godam Reborn versi komik strip yang terhenti peredarannya karena terkendala hak cipta. Ke depan, Gasa akan terus dikembangkan dengan kemunculan Garuda Dua dan Garuda Tiga dalam seri yang berbeda dan berujung pada team up, bersatunya ketiga Garuda dalam membasmi kejahatan.

Buku pertama Gasa juga dibuat dalam versi Bahasa Inggris, dengan harapan bisa mencakup pasar yang lebih luas, setidaknya di lingkup Asia Tenggara.

Akan halnya Garuda Merah alias Red Baron, dibuat dengan latar cerita tahun 1980-an yang dikisahkan menjadi inspirasi dalam penciptaan Gasa.

Metha memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapapun untuk menggunakan karakter superhero tersebut, sepanjang tidak terlepas dari pakem/ profil masing-masing.

Perpustakaan Komik Lokal

Cikal bakal Rumah Komik Minomartani.
(Sumber foto: Tribunnews Jogja)
Di samping menerbitkan komik-komik lokal, Metha  mendirikan sebuah perpustakaan komik lokal yang nantinya bisa diakses oleh publik secara gratis. Hal ini dilakukan karena tempat persewaan komik semakin langka. Kalaupun ada, koleksi yang disewakan biasanya komik-komik Jepang, Amerika dan Eropa.

Metha merasa perlu untuk mengenalkan kepada generasi sekarang karya-karya komik lokal, sejak awal keberadaannya sampai saat ini, dengan harapan akan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap komik-komik buatan negeri sendiri dan komik lokal menjadi sebuah industri yang menjanjikan.

Perpustakaan komik tersebut diberi nama Rumah Komik Minomartani, karena lokasinya di seputaran Minomartani, Jogja.


[MSJ-2016]

Untuk pembelian komik terbitan Metha Studio, silakan hubungi: Akhmad Makhfat (via fb)