Tampilkan postingan dengan label Silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Silat. Tampilkan semua postingan
The Lantern from Selarong
One rainy afternoon in November, a middle-aged man in worn-out drill shirt from out of town entered a museum, almost dragging one of his legs. Before that, that man wrote his impression in the guest book, the sixth year book, page one hundred and eight.
That man looked at every single item in the museum, from photographs of the patriots wiping old carbines, hand-made baby mortars, glass cupboards for valuable archives, headbands, bayonets with flags, miniature mockups of street fight and ambush, black-steel Japanese submachine guns, silent lines of Bulldog and Colt pistols, dusty PENGOEMOEMAN REPUBLIK to pictures of skinny paramilitary troops.
And that man gave respect in silence to the photograph of Mr. Dirman. In front of the monument inside this museum, next to the exit at the ground level he stood and stared at the names carved on aluminum plates. They had died in the fight for the nation sovereignty.
The writing above is a story from a Taufik Ismail’s poem, about a late patriot who wanted to look back at his life, of how his life was spent in defending this nation. There is the unforgettable, extraordinary pride.
In 1825-1830, Diponegoro’s war or Java war took place. This occurred when the Dutch Government placed stakes for construction on the road across Diponegoro’s ancestral graves. Prince Diponegoro became offended and furious because of this. As a form of anger, Prince Diponegoro replaced the stakes with spears.
Dutch Government assumed that Prince Diponegoro had started a rebellion. Diponegoro’s war soon engaged almost the entire people of Java.
Nowadays, Diponegoro’s war always comes to mind whenever people mention Selarong cave. This event has long been imprinted into the mind of Indonesians. The history of a nation truly reveals the greatness of itself.
Just like the old man in a drill shirt who wanted to recall his bravery in the fight against colonialism, Metha Studio also wants to recall the bravery of patriots of the nation by publishing this elegant comic book from Jink titled The Lantern from Selarong, a story taken from the perspective of a young soldier who was always loyal to Prince Diponegoro.
Many things can be learned from this book in addition to the comic book technicalities. The more meaningful thing is that we can always remember the noble and honest histories of our nation.
Regards,
Metha Studio
That man looked at every single item in the museum, from photographs of the patriots wiping old carbines, hand-made baby mortars, glass cupboards for valuable archives, headbands, bayonets with flags, miniature mockups of street fight and ambush, black-steel Japanese submachine guns, silent lines of Bulldog and Colt pistols, dusty PENGOEMOEMAN REPUBLIK to pictures of skinny paramilitary troops.
And that man gave respect in silence to the photograph of Mr. Dirman. In front of the monument inside this museum, next to the exit at the ground level he stood and stared at the names carved on aluminum plates. They had died in the fight for the nation sovereignty.
The writing above is a story from a Taufik Ismail’s poem, about a late patriot who wanted to look back at his life, of how his life was spent in defending this nation. There is the unforgettable, extraordinary pride.
In 1825-1830, Diponegoro’s war or Java war took place. This occurred when the Dutch Government placed stakes for construction on the road across Diponegoro’s ancestral graves. Prince Diponegoro became offended and furious because of this. As a form of anger, Prince Diponegoro replaced the stakes with spears.
Dutch Government assumed that Prince Diponegoro had started a rebellion. Diponegoro’s war soon engaged almost the entire people of Java.
Nowadays, Diponegoro’s war always comes to mind whenever people mention Selarong cave. This event has long been imprinted into the mind of Indonesians. The history of a nation truly reveals the greatness of itself.
Just like the old man in a drill shirt who wanted to recall his bravery in the fight against colonialism, Metha Studio also wants to recall the bravery of patriots of the nation by publishing this elegant comic book from Jink titled The Lantern from Selarong, a story taken from the perspective of a young soldier who was always loyal to Prince Diponegoro.
Many things can be learned from this book in addition to the comic book technicalities. The more meaningful thing is that we can always remember the noble and honest histories of our nation.
Regards,
Metha Studio
Sang Pangeran Jilid 2
Banyak teman-teman pecinta komik yang mengirim pesan kepada saya (Metha Studio) yang intinya berisi rasa penasaran dengan berakhirnya Sang Pangeran jilid 1 dan apresiasi teman-teman yang dapat merasa "melayang" kembali ke masa-masa muda mereka ketika komik bagian dari hiburan utama.
Pesan-pesan yang saya terima merupakan indikasi bahwa tujuan penerbitan Sang Pangeran sudah mendekati tercapai, yaitu memberikan cerita yang menimbulkan rasa penasaran dan mengembalikan kenangan manis akan komik di masa lalu. Mewakili komikusnya, Pak Trie Hendrayana dan selaku Metha Studio, saya mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang sudah membaca Sang Pangeran jilid 1. Terima kasih.
Sang Pangeran jilid 2 ini merupakan jilid yang menjawab rasa penasaran. Apakah kebenaran akan terkuak dan menang? Atau kah sebaliknya? Akankah tokoh kita akan kembali ke jamannya... insyaalah akan terjawab.
![]() |
| Preview Sang Pangeran 2 |
Pada jilid 2 ini juga akan disisipi bonus komik Begal, karya Jink. Satu karya Jink terbaru dengan cerita yang diadopsi dari kisah nyata, dan dilukis secara ekspresif oleh Jink.
![]() |
| Preview Begal |
Yogyakarta, Mei 2017
Metha Studio
Sang Pangeran Jilid 1
Komik bergenre silat pernah berjaya di Indonesia pada tahun 1970an. Secara umum, komikus komik silat meramu komiknya berdasar insiprasi film koboi, film dan cerita silat mandarin di masanya. Hasil ramuan tersebut telah mampu menghasilkan ribuan judul komik silat, yang sebagian di antaranya difilemkan dan bahkan ada yang menjadi legenda yang seolah nyata dalam sejarah kita. Dinamika dan perkembangan jaman kemudian menenggelamkan komik silat lokal dan komik silat lokal pun kian jarang terlebih setelah tahun 1990an.
Metha Studio, kali ini menerbitkan komik bergenre silat dalam rangka mengenang masa kejayaan komik silat 40 tahun lalu. Komik Sang Pangeran merupakan komik silat ketiga Metha Studio setelah Lentera Dari Selarong dan Trah. Sang Pangeran adalah karya komikus senior Trie Hendrayana dari Ambarawa yang membawa misi cerita bahwa kebenaran akan selalu memenangkan pertarungan melawan kejahatan. Komik ini merupakan jilid pertama dari rencana 2 jilid Sang Pangeran.
Metha Studio
Medio Maret 2017
Lentera Dari Selarong (format TPB)
![]() |
|
Keterangan:
Komik ini merupakan kumpulan dari trilogi Lentera Dari Selarong (jilid 1 s/d 3) yang dicetak dalam satu buku secara khusus dengan cover tebal (hard cover) berdasarkan permintaan dari pembaca setia Metha Studio.
Terkait:
Ulasan Pembaca:
"Lentera dari Selarong" adalah novel grafis terbaik tahun 2015 menurut saya. Kisah dengan latar belakang perjuangan pangeran Diponegoro ini memiliki plot-plot yang terjalin dengan sangat apik bahkan nyaris sempurna. Gambar yang ditampilkan pada sepanjang komik ini juga luar biasa.
Komikusnya, Jink, benar-benar maksimal dalam memvisualisasikan cerita sepanjang 260 halaman ini. Dan sama seperti kebanyakan terbitan Metha lainnya, meski berbalut cerita yang serius, unsur humor selalu berhasil diselipkan disana-sini.
Inilah komik luar biasa, yang harus dibaca oleh penggemar komik Indonesia.
Sumber: Sang Kolektor
Lentera Dari Selarong - Jilid 3
![]() |
|
Sinopsis:
Truno Gapuk yang ternyata menjadi suami dari Rengganis berhasil menangkap Pangeran Diponegoro. Ia bermaksud 'menjual' Pangeran Diponegoro ke kompeni, dan sebagai imbalannya ia berharap kompeni akan membantunya mendirikan kerajaan baru di atas tanah Mataram.
Kastubi yang mengetahui hal itu menjadi sangat murka. Ia melawan habis-habisan pasukan Truno Gapuk. Beruntung anak buah Truno Gapuk terpecah dua. Sebagian setia padanya, sebagian lagi berada di pihak Kastubi yang bermaksud menyelamatkan Pangeran Diponegoro.
Catatan:
Bonus komik karya Fajar Sungging berjudul "Gelang Kembar"
Terkait:
Lentera Dari Selarong - Jilid 2
![]() |
|
Sinopsis:
Melalui cerita Warin Kepada Sagiwar terungkap, bahwa orang tua kandung Warin dan Kastubi bernama Parjan dan Rengganis. Rengganis adalah gembong penjarah berjuluk Jrangkong Pesisir.
Suatu ketika Parjan dan Rengganis berselisih paham yang berujung kaburnya Parjan dengan membawa Kastubi kecil yang aslinya bernama Segara, sedangkan Warin yang sebenarnya bernama Gendis tetap ikut Rengganis.
Rengganis yang dendam pada Parjan memburu suaminya itu dan beberapa tahun kemudian berhasil menemukan tempat tinggal Parjan yang telah menikah lagi dengan wanita yang memiliki anak perempuan seusia Gendis yang bernama Kinasih.
Rengganis membunuh Parjan dan istrinya, sementara Kastubi kecil dan Kinasih diselamatkan oleh paman mereka, Dipologo. Dipologo lah yang merawat Kastubi dan Kinasih hingga keduanya beranjak dewasa.
Sementara Warin dan Sagiwar dalam perjalanan menuju ke kampung halaman Kastubi, Kastubi ditolong oleh kompeni bernama Jansen. Ternyata Jansen telah menikahi Kinasih. Jansen membawa Kastubi ke rumahnya dan ketika ia mengetahui kalau Kinasih telah diperistri oleh Jansen yang seorang kompeni dan sangat ia benci, Kastubi kembali pergi meninggalkan kampung halamannya.
Kastubi kemudian bertemu dengan Ratih yang tak lain adalah anak buah Truno Gapuk. Ia ditugasi merayu Kastubi agar mau bergabung dengan Truno Gapuk yang berniat mengail di air keruh. Ia ingin mendirikan kerajaan baru, bekerja sama dengan kompeni.
Terkait:
Lentera Dari Selarong - Jilid 1
![]() |
|
Sinopsis:
Tahun 1830, tersebutlah Kastubi, pemuda desa anggota laskar Pangeran Diponegoro yang sangat loyal pada sang pangeran. Sayangnya ada seorang jagabaya yang cemburu melihat kedekatan Kastubi dengan anak gadis Senopati. Kastubi difitnah dan diusir dari desa tempat laskar Pangeran Diponegoro bermukim. Tak hanya itu, ia juga menjadi buronan kompeni.
Dalam pelariannya, Kastubi yang ingin kembali ke kampung halamannya karena merasa tidak lagi bisa berjuang bersama Pangeran Diponegoro bertemu dengan sahabat lamanya yang bernama Sagiwar. Kastubi mengajak serta Sagiwar untuk ikut ke desanya. Tanpa sengaja mereka masuk ke wilayah kekuasaan Truno Gapuk dan ditawari untuk jadi pengikutnya. Kastubi dan Sagiwar menolak. Kedua sahabat itupun melanjutkan perjalanan menggunakan rakit.
Belum lagi sampai tujuan, rakit mereka diterjang tanah longsor, sehingga membuat Kastubi dan Sagiwar terpisah lagi. Kastubi ditolong oleh seorang prajurit Kompeni, sementara Sagiwar hanyut mengikuti aliran sungai, hingga terdampar di suatu tempat. Di situ Sagiwar bertemu dengan seorang wanita bernama Warin yang tak lain adalah adik kandung Kastubi yang terpisah saat mereka masih kecil.
Terkait:
Trah
![]() |
|
Sinopsis
-
Preview
Langganan:
Postingan (Atom)
Komik terbitan Metha Studio bisa Anda dapatkan di toko online berikut ini: |




































